Mengasah Pisau yang Tumpul: Belajar Kepemimpinan ala Sun-Tzu
17 Maret 2026
7
Suka
(Artikel ini terinspirasi dari Podcast School of Accounting UBAYA Official, Tegas atau kejam? Begini disiplin kompromi ala Sun- Tzu.)
Indonesia dikenal sebagai negara dengan populasi terbanyak ke-4 di dunia. Menjadikan nya sebagai salah satu negara dengan potensi besar. Sayangnya, layaknya pisau tumpul yang tidak pernah diasah, harapan ini bisa padam. Data terbaru menyatakan bahwa rata-rata IQ orang Indonesia adalah 89,96 yaitu di urutan 126 dari 137 negara (International IQ Test, 2026). Walaupun mengalami peningkatan, Angka ini tetap memberikan sinyal bahwa peningkatan kualitas pendidikan dan literasi masih menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Lalu sebenarnya, apa dan bagaimana kunci dalam memperbaiki fenomena ini? Yuk simak artikel berikut!
Berangkat dari fenomena IQ di Indonesia, peran pemimpin menjadi krusial. Dalam konteks sederhana, kepemimpinan dibagi menjadi dua yaitu kepemimpinan internal yang dimiliki oleh setiap individu dan kepemimpinan eksternal yang dijalankan oleh pengambil keputusan.
Konsep kepemimpinan sendiri sudah sejak lama tertuang dalam literasi klasik, salah satunya dalam buku The Art of War Sun-Tzu. Dalam kisah awal, pembaca disuguhkan narasi tentang bagaimana cara Sun-Tzu membuktikan kepada Ho Lu (Raja Wu) bahwa kitab nya bermanfaat. Secara ringkas, Sun-Tzu diminta untuk melatih 180 wanita dari istana untuk melakukan latihan militer. Ia membagi barisan menjadi dua kelompok dan menunjuk panglima yaitu selir kesayangan raja. Instruksi yang diutarakan cukup sederhana hanya depan, belakang, kiri, dan kanan, jika tidak menurut, maka yang menerima hukuman adalah panglima. Setelah mendengar instruksi, latihan pun dimulai. Sayangnya, hal ini cukup sulit dilakukan hingga Sun-Tzu melayangkan peringatan ketiga, saat percobaan keempat, hukuman bagi panglima yaitu selir kesayangan dilayangkan karena gagal melatih pasukan. Setelah kejadian itu, para wanita langsung menjalankan komando dari Sun-Tzu.
Kisah ini menggambarkan bagaimana seorang pemimpin tidak hanya bergantung pada kekuatan prajurit tetapi juga nilai-nilai seperti intelektualitas dalam segala situasi, ketegasan dalam mengambil keputusan, nilai integritas terhadap nilai-nilai, ketenangan dalam menghadapi tekanan, serta kemampuan komunikasi yang jelas dan baik sehingga dapat dipahami seluruh anggota.
Dalam konteks dunia pendidikan, nilai-nilai ini mendorong sistem pendidikan untuk mencari pemimpin yang mampu merumuskan kebijakan secara jelas, menegakkan standar kualitas, serta memastikan bahwa proses pembelajaran berjalan secara efektif. Akan tetapi, peningkatan kualitas intelektual bangsa tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah. Pelajar memiliki peran penting dalam membangun kepemimpinan internal. Kepemimpinan tersebut dapat dimulai dari hal sederhana, seperti meningkatkan literasi, membangun disiplin belajar, serta melatih kemampuan berpikir kritis.
Pada akhirnya, potensi besar Indonesia tidak akan terwujud hanya karena jumlah penduduknya yang besar. Potensi tersebut harus terus diasah melalui pendidikan yang berkualitas dan kepemimpinan yang kuat, baik pada tingkat individu maupun pada tingkat kebijakan. Tanpa itu semua, potensi besar bangsa hanya akan menjadi pisau yang tumpul dan tidak pernah benar-benar dimanfaatkan.
School of Accounting UBAYA menyediakan mata kuliah seperti Manajemen Strategis dan Leadership yang tentunya dapat membantumu dapat meningkatkan potensi terbaikmu. Jika kamu tertarik, Kunjungi website kami akuntansiubaya.id ! Crafting Beautiful Mind