Masuk / Daftar
06 Agustus 2026
Di tengah dunia bisnis yang semakin dinamis, seorang pemimpin tidak lagi cukup hanya berfokus pada pencapaian target. Pemimpin juga dituntut mampu menciptakan lingkungan yang mendorong karyawan untuk terus belajar, berkembang, berinovasi, dan beradaptasi pada perubahan. Dari sini, muncullah suatu aliran kepemimpinan modern yang menarik, yaitu growship. Konsep tersebut mengajak organisasi untuk melihat kepemimpinan dari perspektif yang lebih luas, yaitu tidak hanya bagaimana seorang pemimpin mengarahkan orang lain, namun bagaimana pemimpin dapat membantu seseorang dan organisasi untuk terus bertumbuh. Nah, seperti apa sih kepemimpinan dengan aliran growship? Yuk kita bahas dalam artikel ini!
Apa Itu Growship?
Growship adalah pendekatan kepemimpinan yang berorientasi pada pertumbuhan bersama. Pertumbuhan disini tidak hanya pertumbuhan bisnis, seperti peningkatan penjualan, laba, atau produktivitas, namun juga pertumbuhan manusia yang berada di dalam organisasi. Organisasi saat ini berhadapan dengan perubahan teknologi, kebutuhan konsumen yang terus berkembang, dan ketidakpastian lingkungan bisnis. Dalam kondisi tersebut, pemimpin tidak selalu bisa mempunyai semua jawaban sehingga perlu kemampuan untuk belajar, bereksperimen, dan beradaptasi.
Growship mendorong perubahan pola pikir dari kepemimpinan yang berorientasi pada kontrol menuju kepemimpinan yang memberikan ruang bagi rasa ingin tahu, pembelajaran, dan perkembangan. Seorang pemimpin tidak hanya menanyakan apakah target sudah tercapai, namun juga menanyakan apa yang dapat dipelajari dari suatu proses yang dilakukan sehingga membuka ruang untuk perbaikan dan inovasi.
Growship dan Growth Mindset
Salah satu fondasi penting dalam growship adalah growth mindset. Konsep ini melihat kemampuan seseorang bukan sebagai sesuatu yang sepenuhnya tetap, tetapi dapat dikembangkan melalui pengalaman, latihan, pembelajaran, dan usaha. Dalam organisasi, growth mindset dapat mengubah cara karyawan melihat kegagalan. Kegagalan tidak selalu berarti tidak mampu, tetapi bisa menjadi sumber informasi untuk membantu seseorang memahami apa yang perlu diperbaiki.
Oleh karena itu, growship mendorong perubahan perspektif dari “failure” menjadi “learning”. Kesalahan dapat menjadi data untuk membantu organisasi dalam mengambil keputusan berikutnya dengan lebih baik. Pendekatan tersebut juga membuat eksperimen menjadi bagian penting dalam proses kinerja. Tidak semua eksperimen akan bisa berhasil. Tetapi, setiap eksperimen bisa memberikan pembelajaran baru bagi organisasi.
Dari Control Menuju Curiosity
Dalam pendekatan kepemimpinan yang sangat berorientasi pada kontrol, pemimpin cenderung memastikan bahwa seluruh aktivitas berjalan sesuai rencana. Target, prosedur, dan indikator kinerja digunakan untuk menjaga organisasi tetap berada pada jalurnya. Kontrol tetap diperlukan. Tetapi, dalam lingkungan yang cepat berubah, organisasi bisa menjadi kurang fleksibel jika terlalu fokus pada kontrol.
Growship mengajak pemimpin untuk mengembangkan curiosity (rasa ingin tahu). Pemimpin harus menanyakan atau mencari tahu hal-hal, seperti cara yang lebih baik untuk melakukan suatu pekerjaan, pelajaran dari kesalahan, perubahan yang mungkin terjadi di masa depan, cara organisasi mempersiapkan diri, dan lain-lain. Pemimpin tidak hanya menjadi pengawas, namun juga penggerak pembelajaran dan perubahan.
Lima Elemen Penting dalam Growship
1. Purpose Alignment: Organisasi harus memastikan ada keselarasan antara tujuan perusahaan, tim, dan individu. Karyawan yang memahami alasan dibalik pekerjaannya cenderung mempunyai hubungan yang lebih kuat dengan tujuan organisasi. Pemimpin perlu membantu anggota tim memahami mengapa suatu pekerjaan penting, bukan hanya apa yang harus dikerjakan.
2. Culture of Innovation: Growship memerlukan budaya yang memberikan ruang bagi inovasi dan eksperimen. Inovasi tidak harus selalu berupa perubahan besar. Perbaikan kecil pada proses kinerja, produk, layanan, atau cara berkomunikasi juga bisa menjadi bagian dari inovasi. Yang penting adalah organisasi memberikan kesempatan bagi karyawan untuk menyampaikan ide dan mencoba pendekatan baru.
3. Agility: Organisasi harus mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan. Agility (kelincahan) membuat organisasi tidak terlalu terikat pada satu cara kerja saat kondisi sudah berubah. Pemimpin harus mampu mengevaluasi kembali strategi dan mengambil tindakan saat lingkungan bisnis menuntut perubahan.
4. Vision: Growship juga membutuhkan visi. Pemimpin harus mempunyai gambaran tentang arah yang ingin dicapai organisasi dan mampu mengkomunikasikannya kepada anggota tim. Visi memberikan arah saat organisasi sedang menghadapi ketidakpastian.
5. Emotional Skills: Pertumbuhan organisasi melibatkan manusia. Pemimpin harus mempunyai self-awareness, empati, dan kemampuan membangun psychological safety. Lingkungan yang aman secara psikologis dapat membuat karyawan lebih berani menyampaikan ide, mengajukan pertanyaan, dan mengakui kesalahan tanpa takut disalahkan.
Pentingnya Psychological Safety dalam Growship
Misalnya, ada sebuah perusahaan yang meminta karyawannya untuk berinovasi, namun setiap kesalahan langsung dikenakan hukuman. Dalam kondisi tersebut, karyawan mungkin akan memilih bermain aman. Mereka cenderung menghindari eksperimen karena resiko kegagalan terlalu besar. Oleh karena itu, growship membutuhkan psychological safety, dengan menyediakan ruang yang memungkinkan karyawan mencoba sesuatu yang baru dengan resiko yang terkendali. Contohnya melalui eksperimen kecil atau proyek dengan resiko rendah. Jika organisasi memberikan ruang untuk mencoba, mengevaluasi, dan belajar, inovasi dapat berkembang secara bertahap.
Bukan Hanya Mengejar Angka, tetapi Mengembangkan Manusia
Growship memperluas cara organisasi memandang keberhasilan seorang pemimpin. Pemimpin memang harus mampu menghasilkan kinerja. Tetapi, keberhasilan pemimpin tidak hanya dilihat dari besar angka yang berhasil dicapai. Growship juga melihat berapa banyak orang yang berhasil dikembangkan oleh pemimpin tersebut. Pemimpin yang mampu meningkatkan kemampuan anggota tim sebenarnya sedang membangun kapasitas organisasi untuk jangka panjang. Oleh karena itu, indikator kepemimpinan perlu diperluas. Pemimpin tidak hanya dinilai dari target yang dicapai, tetapi juga kontribusinya bagi inovasi, pembelajaran, kolaborasi, pengembangan karyawan, maupun keselarasan tujuan organisasi.
Cara Menerapkan Growship
Growship sebagai Kepemimpinan Masa Depan
Konsep growship menunjukkan bahwa kepemimpinan modern bukan lagi hanya tentang mengendalikan dan mengarahkan, namun juga menumbuhkan dan mengembangkan. Perubahan dari leadership menuju growship terlihat dari beberapa pergeseran cara berpikir. Perubahan tersebut bukan berarti target, kontrol, dan pencapaian finansial menjadi tidak penting. Sebaliknya, growship memberikan perspektif yang lebih luas. Hasil bisnis tetap penting, namun kemampuan manusia dan organisasi untuk terus berkembang juga perlu diperhatikan.
Di tengah perubahan yang semakin cepat, organisasi mungkin tidak selalu mampu memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Tetapi, organisasi dapat mempersiapkan diri dengan membangun orang-orang yang mampu belajar, beradaptasi, bereksperimen, dan berkembang. Growship mengajarkan bahwa kepemimpinan tidak hanya tentang bagaimana mencapai hasil hari ini, namun juga bagaimana menumbuhkan manusia, budaya, dan kemampuan organisasi untuk menciptakan hasil yang lebih baik di masa depan. Untuk lebih lengkapnya, materi ini akan dipelajari dalam mata kuliah Manajemen Strategis dan Kepemimpinan.
Referensi:
Di Luise, Filomena. (2025, October 23). Shifting The Mindset From Leadership To Growship. Forbes. Diakses pada 4 Agustus 2026, dari: https://www.forbes.com/councils/forbesbusinessdevelopmentcouncil/2025/10/23/shifting-the-mindset-from-leadership-to-growship/
(Nadine)
X
Populer